Hillary Bernostalgia Kunjungan Tahun 1994

Kompas.com - 19/02/2009, 02:50 WIB

Ruang jamuan makan malam di lantai dua Gedung Arsip Nasional langsung hidup begitu Menlu AS Hillary Rodham Clinton datang tepat pukul 20.30 hari Rabu (18/2). Delapan meja bulat sudah diisi masing-masing delapan orang.

Hillary satu meja dengan, antara lain, Fauzi Bowo, Lily Munir, dan Pramono Anung. Tamu lain di ruangan itu, antara lain, adalah Marzuki Darusman, Suciwati, Azzumardi Azra, Moeryati Soedibyo, dan Nursyahbani Katjasungkana.

Saat Hillary berpidato di podium pukul 21.30, mantan First Lady AS (tahun 1992-2000) ini mulai bernostalgia saat berkunjung ke Indonesia tahun 1994 sebagai istri dari Presiden AS Bill Clinton. Dia bercerita dalam suasana santai selama 10 menit yang mengundang tawa para tamu.

Dalam kunjungannya itu, Hillary sempat ke Daerah Istimewa Yogyakarta untuk berkunjung ke posyandu. Hillary mengira akan menemukan bangunan posyandu. ”Ternyata banyak anak balita berada di bawah pohon. Mereka siap untuk ditimbang dengan kain,” ujarnya sembari senyum.

Lebih lanjut, Hillary bicara serius soal membangun masyarakat sipil dan pentingnya peran masyarakat sipil. Amerika akan tetap mendorong hubungan kerja sama antarpemerintah beserta hubungan antarmasyarakat (people to people).

Hillary sempat bercerita bagaimana prosesnya ditunjuk sebagai menteri luar negeri. ”Saya kaget sekali ketika disuruh menjadi menteri luar negeri oleh Obama. Saya tidak menduga, tetapi saya bilang iya karena itu kehormatan untuk melayani negara dan rakyat Amerika,” ujarnya.

”Saya mengerti citra Amerika pada masa lalu kurang baik. Karena itu, kami ingin mencari common ground dengan berbagai negara di dunia,” ujarnya soal salah satu tugas utama yang bakal diembannya sebagai Menlu AS.

Di meja tempat Hillary santap malam, dia mendengarkan cerita-cerita tentang toleransi umat Muslim. Kata Hillary, ”Harapan kami dari kunjungan ini, kita (Indonesia dan Amerika) akan mencari cara untuk bekerja sama dalam bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, good governance, peningkatan pemahaman satu sama lain, hak asasi manusia, penegakan hukum, dan resolusi damai untuk mengatasi konflik.”

Hillary terkesan melihat majunya peran perempuan di Indonesia. Saking terkesannya, Hillary berkata, ”Nanti di Korea Selatan dan negara lain yang akan saya kunjungi, saya akan bilang kepada orang-orang di sana: kalau anda mau melihat perkembangan dan keberhasilan demokrasi, Islam, dan peran perempuan, datanglah ke Indonesia.”

Menjawab pertanyaan banyak orang tentang kapan kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia, Hillary berkata, ”Saya tahu betapa sulitnya menjadi presiden. Berjuta-juta masalah ada di depan mata.

Presiden harus bisa menghadapi tekanan dan tantangan. Saya akan bilang ke Presiden Barack Obama untuk segera datang ke Indonesia jika memungkinkan. Dan, saya akan bilang ke Obama betapa ia dicintai dan dinanti-nanti (di Indonesia). Saya sendiri juga bertanya-tanya kapan dia akan datang ke Indonesia,” tuturnya sambil tertawa. Hillary selalu tersenyum dan tertawa malam itu. (luk)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau